Being close friend for someone sometimes isn’t an easy thing. Kadang membuat kita lupa dengan prinsip-prinsip yang sudah kita pegang. Contohnya ketika kita tahu, kalau bullying itu tidak boleh dilakukan, tapi rasanya sulit sekali menahan lidah atau berpikir dahulu sebelum berucap saat bersama teman dekat.
Perumpamaan berteman dengan “pandai besi” atau dengan “tukang parfum” cukup menjadi patokan kita dalam memilih siapa-siapa yang dapat kita pilih sebagai teman dan bagaimana kita memposisikan diri kita sebagai teman. Syukur-syukur jika kita dapat menjadi teman seperti “tukang parfum” dimana teman kita akan kebagian harumnya.
Jikalau kita berteman dengan orang-orang yang menyebut kata “anj*ir, dll” dalam setiap kalimat yang diucapkan, otomatis, kita akan dengan mudah tertular untuk mengucapkan kalimat tersebut pula. Pun jika kita berteman dengan orang yang sering menyebut “MasyaAllah, Subhanallah”, tanpa sadar lisan kita akan juga berucap kalimat-kalimat thoyyibah penenang hati.
Semoga ada saatnya ketika semua dari kita bisa menjadi teman main yang baik, teman yang bisa saling mengingatkan, tanpa harus kaku namun juga tetap saling menjaga perasaan satu sama lain… aamiin